Aku Telah Menikah Dengan Wanita di Ofisku yang mana Pangkatnya Lebih Tinggi dariku dan dia 10 Tahun Lebih Tua Dariku. Ketika Malam Pertama, Aku Terkejut Dia Melakukan Hal Ini dan Buat Aku Yakin Bahawa, Aku Tidak Salah Pilih Isteri! Benar Orang Cakap Wanita Lebih Tua Lebih Matang Dalam hal-hal Macam ni…

Loading...

Mungkin aku adalah lelaki yang beruntung. Kerana ada biasiswa dan program ulasan kerja, aku akhirnya mampu bertahan dan menyelesaikan kuliahku selama 4 tahun.

Selama 4 tahun itu, aku melihat perjalanan cinta yang romantis teman sebilikku, dan untuk pertama kalinya aku merasa wang adalah hal yang sangat penting.

Orang yang paling banyak wang, setiap semester dia mampu berganti kekasih. Hanya aku, orang yang miskin dan setiap hari setelah kuliah, harus bekerja dan tidak ada waktu untuk merajut cinta.

Berkekasihan pasti memerlukan wang, dan aku adalah orang yang kekurangan.

Hingga aku lulus, setiap malam aku membayangkan di masa depan, aku mampu bersama dengan gadis yang aku kenal di kelas. Dia sudah berganti kekasih hingga 2 kali, aku hanya mampu melihatnya dari jauh.

Ketika lulus, aku menemukan pekerjaan yang sesuai dengan jurusanku, dengan gaji yang cukup memuaskan. Aku percaya, dengan kemampuan dan usahaku, suatu hari aku mampu keluar dari kemiskinan.

Setelah aku bekerja, aku baru sedar, dampak ekonomi keluarga untuk masa depan sangatlah besar.

Meski teman sekelasku yang juga lulus di tahun yang sama denganku, mendapatkan gaji yang tidak begitu tinggi, namun setelah 2 tahun bekerja, dia sudah membeli sebuah rumah, bahkan beberapa temanku yang lain sudah menikah.

Aku mulai merasa bahawa hidup itu tidak adil, selain usaha dan ketekunan, apa lagi yang mampu kulakukan untuk mengubah taraf hidupku?

Aku hanya mampu bekerja lebih giat dan keras lagi, berhemat hingga aku mampu membeli sebuah rumah kecil di kota. Setelah itu, aku baru mampu memikirkan yang namanya cinta.

Aku benar-benar menjalani seluruh hidupku dengan bekerja, kerana hal itulah aku menjadi lebih dekat dengan atasanku. Dia adalah seorang wanita yang lebih tua 10 tahun dariku. Dia tidak hanya baik dan menjagaku, dia juga sering menyapaku dan membuatku tersentuh.

Semakin hari, kami pun semakin dekat dan aku baru tahu, ternyata dia sudah bercerai 8 tahun yang lalu dan setelah itu dia tidak memiliki pasangan. Mungkin hal itulah yang menjadi dorongan untukku agar semakin dekat dengannya.

Suatu malam, ketika dia tidak sengaja menarik tanganku, aku merasa aku tidak mampu menolaknya. Itu adalah yang pertama kali untukku memegang tangan seorang wanita. Ketika itu, aku merasakan kehangatan.

Sejak hari itu, kami menjadi semakin dekat dan mulai berkekasihan. Namun, kerana aku takut kisah cinta ini akan mengganggu karirnya, akhirnya aku memilih untuk keluar dari pekerjaan ke perusahaan lain dan dia yang merekomendasikannya.

Di luar jam kerja, dia sangat berbeza. Yang biasanya di ofis, dia adalah wanita tegas dan mendominasi. Sedangkan ketika sedang kekasihan, dia menjadi seorang wanita yang lembut dan menawan.

Kami pun menjalin asmara dalam beberapa bulan, tiba-tiba suatu malam dia meneleponku dan menyuruhku turun dari rumahku. Dia bahkan memegang sebuket bunga dan dia melamarku!

Dia mengatakan bahawa dia serius. Dia mengatakan bahawa aku masih muda dan perjalanan karirku masih panjang, dia sudah punya rumah dan mobil, dan aku tidak perlu memberinya apapun, hanya perlu aku untuk bersedia bersamanya.

Ya, meski hal ini terlihat aneh, dia yang seorang wanita malah yang melamarku. Namun, akhirnya tak lama setelah itu, kami pun menikah, hanya teman-teman dekat kami yang diundang untuk makan bersama.

Setelah malam jamuan pernikahan berakhir, kami pun pulang ke rumah. Kami menonton TV bersama dan bersiap-siap untuk tidur. Tiba-tiba dia bertanya kepadaku, “Apakah kamu benar-benar mencintaiku dan menerimaku apa adanya?” Aku melihat ke arahnya dan mengangguk dengan pasti.

Ia kemudian melanjutkan, “Tapi aku lebih tua banyak darimu”.

Aku pun tertawa dan membalasnya, “Jika aku sangat peduli dengan hal itu, aku tidak akan menikahimu”.

Ia kemudian mengatakan bahawa mau menambahkan namaku di surat kepemilikan rumah, memberikan buku tabungannya, dan berharap aku tidak mengkhianatinya.

Aku tidak mau menerima semua itu, aku menyuruhnya untuk menyimpannya saja dan membicarakan di lain hari. Ya, aku mau bersamanya bukan kerana wang dan harta yang dia miliki.

Sebelum tidur, dia bahkan merendam dan memijat kakiku, kerana dia tahu aku lelah hari itu. Aku pun terharu dengan yang dia lakukan, selama ini, hanya ibuku yang baik dan melakukan hal ini kepadaku.

Aku semakin yakin, meski dia lebih tua jauh dariku, namun pilihanku untuk menikah dengannya, tidaklah salah dan aku bersyukur mampu menjadi bagian hidupnya.

Sumber – manggahijau.com

Loading...