Setelah Ibunya Meninggal Dunia, Dia Dijual Oleh Ayahnya.. Siapa Sangka, Pakcik Yang Membelinya Melakukan Hal Ini yang Buat Netizen Semua Menangis !

Suatu hari di sebuah desa, Anisa, seorang gadis yang periang, harus mengalami kesulitan dalam hidupnya. Ibunya harus terbaring di tempat tidur karena sakit keras. Ayahnya tidak pernah ada di rumah, ayahnya bukan hanya pemabuk, tapi juga penjudi. Setiap pulang dalam keadaan mabuk pasti langsung tertidur pulas. Apapun yang terjadi di rumah, ia tidak peduli.

Anisa sendiri tidak pernah dianggap oleh ayahnya karena ayahnya sedari awal menginginkan anak laki-laki sedangkan, sang ibu setelah melahirkan Anisa sudah tidak bisa melahirkan lagi karena tubuhnya yang lemah. Ayahnya pun selalu menganggap ini semua salahnya Anisa.

Oleh karena itu, Anisa lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Sejak kecil ia adalah anak yang mengerti keadaan. Selalu membantu pekerjaan rumah, meringankan beban ibunya hingga ia tumbuh dewasa. Cuci baju, memasak, memberi makan sapi, membuatkan obat untuk ibunya, semua ia lakukan dengan tulus.

Ibunya hanya bisa mengusap air mata setiap ia melihat Anisa sedang sibuk dan merasa bersalah pada anaknya. Sejak melahirkannya, ia tidak bisa merawat Anisa dengan baik. Tapi, Anisa tetap tersenyum dan berkata, “bu, ibu baik-baik rawat diri sendiri aja supaya cepat sembuh. Anisa sudah besar sudah bisa jaga ibu. Tunggu Anisa punya uang, nanti pasti Anisa bawa ibu ke dokter terbaik supaya ibu cepat sembuh!”

Dan suatu hari dimana saat Anisa berusia 6 yahun, ibunya yang sudah tidak sanggup berkata sambil menangis dan menggenggam tangannya, “anakku yang malang, ibu minta maaf padamu karena sudah tidak bisa merawatmu lagi, ibu tak tega, ibu tak bisa melepaskanmu!” Sang ibu yang belum selesai berbicara, akhirnya pergi untuk selamanya bersama penyesalannya. Anisa menangis sejadi-jadinya dan berkata, “ibu.. Ibu.. jangan pergi… jangan tinggalin aku sendiri..”

Ayahnya yang baru pulang dalam keadaan mabuk dan melihat ibunya yang sudah terbujur kaku berkata, “udah mati? Baguslah! Orang yang tak bisa melahirkan lagi ini tidak ada gunanya hidup!”

 

Anisa menatap wajah ayahnya dengan penuh kekesalan, tapi ayahnya malah membentak dan menampar wajahnya berkata, “berani kamu menantang ayah? Sudah tak ingin hidup lagi?!” Anisa hanya bisa terdiam dan menangis.

Dua hari setelah ibunya meninggal, ayahnya membawa pulang seorang janda ke rumahnya. Banyak rumor yang mengatakan bahwa janda itu terkenal sering mempermainkan banyak pria, termasuk ayahnya.

Saat janda itu memasuki rumah, ia segera membuang semua barang peninggalan ibunya Anisa. Katanya adalah barang pembawa sial. Setelah melihat Anisa, matanya langsung menggenggam lengan ayah dan menatap ke ayahnya dengan tatapan merengek seperti anak kecil. “Suamiku yang baik, kamu lihat anak itu, dirawat hanya akan menambah beban, dijual saja dia, ditukar dengan uang untuk hidup kita~”

Ayahnya bertepuk tangan dan memujinya berkata, “ide bagus! Lihat dia saja sudah malas, awalnya berpikir untuk mengusirnya, tapi idemu sangat bagus! Kita jual saja dan uangnya dianggap sebagai hasil dari merawatnya selama ini!”

Setelah berdiskusi, janda itu pun menelpon temannya yang ingin membelinya. Dua hari kemudian, ayah menipu Anisa dengan menyuruhnya ke rumah neneknya, padahal ia akan dijual kepada teman si janda. Teman itu adalah seorang pria tua yang merupakan preman desa. Berharap setelah Anisa dewasa bisa dijadikan istri juga, semuanya ia jual seharga 1 juta rupiah.

Anisa yang akhirnya tahu pun menangis keras dan berteriak karena ia ternyata dikunci di dalam rumah pria itu.

Malam harinya, dapat kabar bahwa pamannya bersama 10 orang lainnya datang ke rumah pria itu dan membeli kembali Anisa seharga 2 juta. Ketika perjalanan pulang, pamannya yang merasa gusar pun pergi ke rumah ayah Anisa dan menghancurkan rumahnya. Sampai membuat ayah dan janda tersebut tidak berani berkata apa-apa.

Anisa pun menangis dalam pelukan pamannya. Ia tahu bahwa ia sudah jauh dari neraka dan ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dia sampai menikah dengan pria tua itu. Pasti akan buruk akhirnya.

Waktu berlalu dengan cepat, Anisa dan sepupu laki-lakinya akan masuk SMA, tapi kondisi keuangan keluarga tidak memungkinkan dua anak ini untuk masuk SMA. paman dan bibinya sangat sedih berkata bahwa mereka tak ada pilihan lain. Mereka ingin tetap membiarkan Anisa masuk SMA karena nilainya lebih bagus dari sepupunya. Dan juga mereka memutuskan untuk membiarkan anak laki-lakinya bekerja karena tenaga laki-laki lebih besar. Sedangkan perempuan seharusnya banyak belajar supaya kelak dewasa nanti tidak diremehkan oleh mertuanya.

Anisa yang mendengar hal ini berkata, “paman dan bibi, kebaikan kalian benar-benar membuatku sangat berterimakasih sedalam-dalamnya, kalian sudah bersusah payah selama ini, jangan dipaksakan lagi, aku tak ingin sekolah lagi, aku sudah bisa pergi ke pabrik untuk bekerja, sama dengan bisa membiarkan kakak yang sekolah!”

Paman dan bibinya memeluk ANisa dan langsung menangis, sedangkan kakak sepupunya hanya bisa terdiam. Ternyata malam itu, sang kakak pergi dan rumah dan meninggalkan sepucuk surat. Isi suratnya: “pa, ma, jangan bersusah payah lagi, aku ini adalah laki-laki dan sudah dewasa, sudah waktunya aku yang melakukan sesuatu untuk keluarga ini! Anisa, kamu rajin belajar ya. Tunggu kamu sudah dewasa, kaka pasti bangga denganmu!”

Setelah membaca surat ini, Anisa langsung menangis. Ia berjanji ia akan giat belajar demi menebus segala kebaikan dari keluarga ini.

Beberapa tahun kemudian, setelah lulus kuliah, Anisa bekerja di salah satu dari 500 perusahan besar bahkan ia pun dipilih untuk menjadi pemimpin dan diakui oleh seluruh rekan kerjanya. Jabatannya perlahan semakin meningkat dan sekarang ia menjadi kepala cabang.

Anisa juga merekrut kakak sepupunya untuk masuk ke dalam perusahaan itu dan juga mendorong kakaknya untuk ikut tes masuk perguruan tinggi. Kakaknya yang sangat giat akhirnya berhasil mendapatkan ijazah dan kini bersama Anisa, sama-sama membangun bisnis menjadi besar.

Kemudian Anisa membelikan pamannya sebuah rumah dan berkata bahwa sekarang paman dan bibi sudah waktunya untuk menikmati hidup. Sudah waktunya aku untuk membalas kebaikan paman dan bibi.

Ayah Anisa yang mengetahui anaknya yang kini sudah sukses, datang dan mencarinya untuk meminta bantuan. Ia baru tahu bahwa anak laki-laki yang selama ini ia rawat dengan baik, bukanlah anak kandungnya, melainkan anak dari hasil hubungan janda itu dengan pria lain. Dan kini janda bersama anaknya mengusir dia sehingga membuatnya kesulitan hidup.

Namun, Anisa berkata dengan lembut, “maaf, aku tidak punya seorang ayah. Ketika ia menukarkanku dengan 1 juta rupiah, ia telah lama mati. Pergilah, dan jangan mencariku lagi!”

Melihat ayahnya yang akhirnya pergi, hati Anisa sungguh tak tega dan sedih sebenarnya.

Sumber: story via Eraformasi

Loading...